My Idiot Brother

watch_later Selasa, 16 Mei 2017

Rizky, teman-temanku memanggilku seperti itu. Statusku masih pelajar di salah satu SMA Swasta di Yogyakarta. Akupun mempunyai Adik sepupu, dia sedikit berbeda dengan orang-orang pada umumnya. Aku lebih menyukainya jika disebut suatu karunia pemberian Tuhan, karena aku merasa senang dan sangat bersyukur mempunyai adik seperti dia. Adikku mengalami gangguan perkembangan yang membuatnya sulit berkomunikasi dan susah mengungkapkan perasaan dan keinginannya sehingga perilaku hubungan dengan orang lain tergganggu atau dalam dunia medis disebut Autis. Adikku bernama langit, langit berarti bentangan luas di atas bumi, bebas, suci, dan segar.
            Aku sering bermain dengan langit, kami seringkali bermain kejar-kejaran di bukit luas di desa kami. Disana teman-teman sebaya kami juga kerap berkumpul dan bermain bersam. Aku dan langit ingin sekali bermain bersama mereka tetapi aku mengurung keinginanku dan melarang Langit bermain bersama mereka. Karena aku tidak akan tega Langit terus-terusan diberi perlakuan tercela oleh mereka karena kondisi Langit yang berbeda dari yang lainnya. Aku ingin melindungi Langit walaupun keinginannya untuk bermain bersama mereka keras. Aku sebagai kakak dari Langit tidak ingin ada yang mencelakai Langit.
            Di sekolah kerap kali aku mendapat ejekan-ejekan dari teman-temanki karena mempunyai Adik seperti Langit. Mereka sering sekali berkata, “Hahaha Rizky punya idiot brother..” Aku berusaha menahan diri dan tetap sabar untuk berusaha tidak mendengarkan perkataan mereka. Walaupum masing-masing dari mereka pernah tertangkap basah oleh guru saat sedang melakukan perlakuan tercela atau biasa disebut bully yang selalu menimpa kepadaku, dan beberapa kali diberi hukaman dan nasehat oleh guru tetapi mereka tidak pernah kapok untuk mengejek dan berusaha mencelakai Adikku.
            Suatu hari, Langit bermain tanpa sepengawasanku bahkan sepengetahuanku. Teman-temanku segera menghampiri Langit untuk bergabung dengan mereka dengan iming-iming bermain bersama. Akhirnya mereka membawa Langit ke bukit luas di desa mereka. Disana mereka sudah berencana untuk menyakiti Langit. Langit mendapat hantaman bertubi-tubi. Dia berusaha melawan tetapi apa daya hanya sendirian melawan orang banyak. Ia hanya meringis kesakitan dan memanggil-manggil keras namaku berharap aku akan datang bak superhero kesayangan Langit. Tapi kenyataannya, saat itu aku tidak disana dan tak pernah datang.
            Setelah kejadian itu, Langit mengalami sakit yang lumayan parah selama berhari-hari. Akupun saat itu mengalami keadaan yang paling terpuruk meratapi kesedihan bahwa kenyataannya aku hanyalah pecundang dan bukan superhero yang akan melindungi Langit. Aku sangat marah dengan diriku.

            Mungkin Tuhan sudah rindu. Sesuai namanya, Langit. Sekarang nama itu terbukti menjadi doa. Langit sudah terbang dan terbebas dari penderitaan di dunia. Kini tak ada yang menyakiti langit lagi. Langit sudah aman disana, berbahagia di sisi Tuhan. Aku seharusnya senang tetapi ini begitu perih untukku. Aku mengenang saat aku bermain kejar-kejaran dengan Langit di bukit luas. Tetapi kini tidak ada lagi yang mengejarku. Aku merasa dunia sedang menghakimiku. Tetapi kini aku bisa mengawasi Langit dan selalu melihat dia. Dia sangat luas, diatas sana. Bewarna biru dan ketika melihatnya aku selalu tersenyum dan terasa tenang. Selamat tinggal My Idiot Brother..




sentiment_satisfied Emoticon